Minggu, 02 Maret 2014

Upaya Menyelamatkan Tenaga Kerja Aceh

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad, M.OHS 


Banyak pekerja tambang di Indonesia yang tidak terlindungi dari bahaya kerja

LAGI, nyawa tenaga kerja Aceh melayang di tempat kerja. Seperti diberitakan, tiga penambang emas tewas di lokasi tambang Gampong Pulo Lhoih, Kecamatan Geumpang, Pidie. Kasus ini menambah daftar panjang penambang emas yang meninggal akibat kecelakaan kerja. (Serambi, 25/1/2014).

Diperkirakan ketiga pekerja tambang tersebut meninggal di tempat akibat kekurangan oksigen, suatu masalah umum yang ada pada confined space (ruang sempit). Padahal untuk bekerja dalam ruang sempit, seorang pekerja perlu dibekali pelatihan prosedur keselamatan khusus.

Ditilik dari perspektif ilmu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), terjadinya kecelakaan kerja dapat dijelaskan dengan teori Swiss Cheese Model karya James Reason. Profesor psikologi industri di Inggris ini mengilustrasikan kecelakaan kerja dengan perumpamaan keju Swiss.

Menurutnya, kecelakaan kerja terjadi akibat kegagalan lapisan-lapisan sistem pengamanan terhadap suatu occupational hazard atau bahaya kerja. Lapisan-lapisan pada keju diumpamakan sebagai lapisan-lapisan sistem pengaman dan lubang-lubang pada keju sebagai gap atau celah. Celah inilah yang memberi jalan suatu bahaya kerja sehingga bisa menimbulkan kecelakaan kerja.

Kompleks dan kronis

Terlepas dari unsur legalitas pekerjaannya, kasus yang menimpa beberapa tenaga kerja tambang di Aceh tersebut merupakan contoh yang kerap terulang, akibat dari permasalahan di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang kompleks dan kronis di Indonesia. Faktanya, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) mencatat lebih 12.700 perusahaan di negara ini tidak mengimplementasikan K3 secara benar sepanjang 2013 lalu (www.depnakertrans.co.id).

Jumlah yang sangat bombastis. Maka rasanya tidak perlu heran jika kasus kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja (PAK) silih berganti menjadi headline media massa. Target “Indonesia Berbudaya K3 Tahun 2015” sepertinya masih memerlukan usaha yang gigih. Walaupun tidak semua dari ketidakpatuhan tersebut berujung pada kasus, namun sejatinya masalah tersebut tetap ada. Layaknya fenomena gunung es, kasus-kasus yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil dari masalah, sedangkan sebagian besarnya justru terkubur jauh di dalam.

Kamis, 22 Agustus 2013

Toksikologi

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad


Gambar 1. Tanda peringatan bahaya zat kimia

Pengantar Toksikologi


Salah satu cabang ilmu pengetahuan yang masih dalam ruang lingkup Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah Toksikologi. Sebagaimana namanya, Toksikologi adalah ilmu yang mempelajari mekanisme kerja dan pengaruh toksik dari zat-zat kimia pada makhluk hidup. Tujuan utama dari mempelajari toksikologi adalah untuk mengetahui bagaimana efek suatu zat kimia terhadap kesehatan dan berapa banyak kadar zat kimia yang dibutuhkan sehingga dapat menimbulkan efek tersebut. Pengetahuan ini - efek dan kadar toksik zat kimia - lalu bisa digunakan sebagai dasar untuk menentukan batas paparan zat kimia yang diperbolehkan.

Mekanisme kerja dan pengaruh toksik suatu zat kimia dapat dilacak melalui berbagai cara. Cara yang paling tepat, yang bisa menjadi bukti kuat, adalah dengan pengukuran langsung paparan zat kimia dan efek yang ditimbulkannya pada manusia melalui studi epidemiologi atau studi klinis terkontrol. Bagaimanapun, dalam banyak kasus, tidak mudah untuk bisa melakukan pengukuran langsung pada manusia. Pada kasus-kasus ini, pengukuran paparan dan efek zat kimia dilakukan melalui studi eksperimental di laboratorium pada binatang percobaan dan sel tubuh manusia, dengan harapan hasil yang dicapai dapat diekstrapolasi pada manusia.

Ruang lingkup toksikologi sangat luas, sebagaimana kita ketahui, setiap zat kimia memiliki potensi membahayakan kesehatan manusia apabila mencapai kadar tertentu. Oleh karena itu, studi toksikologi biasanya dibatasi hanya untuk mempelajari mekanisme kerja dan pengaruh toksik zat kimia yang terdapat pada bahan polutan, bahan tambahan makanan, obat-obatan, dan bahan industri.

Seorang dokter akan sangat membutuhkan pengetahuan tentang toksikologi ini ketika berhadapan dengan kasus-kasus kesehatan dari lingkungan kerja dimana terdapat paparan zat kimia. Pengetahuan tentang mekanisme kerja dan pengaruh toksik suatu bahan kimia sangat dibutuhkan untuk dapat menentukan diagnosis dan manajemen terapi yang tepat. Terlebih lagi dalam kasus-kasus kegawatdaruratan akibat paparan bahan kimia, pengetahuan toksikologi dapat membantu menentukan langkah pertolongan pertama.

Referensi

McCunney
, Robert J., ed. A practical approach to occupational and environmental medicine. Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins, 2003.


Minggu, 09 Juni 2013

Kanker – Identifikasi, penilaian, dan kontrol

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad


Sejarah mencatat, tempat kerja telah merupakan salah satu kontributor utama penderita kanker di seluruh dunia. Semua ini tidak terlepas dari adanya paparan pekerja terhadap bahan-bahan kimia yang umum ditemukan dalam suatu proses industri.

Berbeda dengan PAK (Penyakit Akibat Kerja) lain, karakteristik khusus kanker terletak pada penyebabnya yang cenderung multifaktor dan rentang waktu yang lama antara paparan dan timbulnya penyakit. Karakteristik ini seringnya menjadi masalah dalam identifikasi kanker akibat kerja.

Berdasarkan fakta ini, maka penting bagi seorang praktisi K3, terutama yang berfokus pada kesehatan kerja, untuk memahami mekanisme identifikasi, penilaian, dan kontrol resiko kanker di tempat kerja.

Identifikasi sumber bahaya penyebab kanker

Langkah pertama yang harus diambil oleh seorang praktisi K3 adalah mengidentifikasi apakah suatu zat bersifat karsinogenik atau dapat menyebabkan kanker. Untuk tujuan ini, IARC (International Agency for Research on Cancer) telah mengumpulkan berbagai data epidemiologi dan eksperimental untuk kemudian menentukan potensi suatu zat menyebabkan kanker. Data-data tersebut dikompilasi dalam monograf laporan yang bisa ditemukan lewat link berikut
http://monographs.iarc.fr/.

Berikut adalah contoh monograf ‘Silica’ yang diklasifikasi Grup 1:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...