Rabu, 25 Februari 2015

Ancaman Kesehatan Bagi Pengrajin Batu Giok

Pengrajin batu giok (sumber: www.leuserantara.com)

Fenomena batu giok, bukan hanya memberikan angin segar bagi perekonomian masyarakat Aceh, tetapi juga berpotensi menghadirkan dampak buruk bagi kesehatan para pengolahnya. Terutamanya bagi mereka yang berposisi sebagai pengasah giok.
Lalu, apa saja resiko kesehatan yang mungkin bisa dialami oleh seorang pengrajin batu giok? dr. Ikhwan Muhammad, M.OHS, pakar kedokteran kerja menjelaskannya untuk anda. Berikut petikan hasil wawancara Sukma Hayati dari The Globe Journal bersama dr. Ikhwan, Jum'at (20/2/2015) di Banda Aceh.
TGJ: Dokter, apa saja resiko yang mungkin dialami oleh seorang pengrajin batu giok dalam melakoni pekerjaannya ?
Dokter: Berdasarkan pengamatan saya, pengrajin batu giok bisa saja berhadapan dengan berbagai  sumber bahaya. Diantaranya adalah sumber bahaya ergonomis, yaitu sumber bahaya yang disebabkan oleh posisi bekerja seseorang yang kurang baik.
Contohnya, pengrajin seringkali membungkukkan badan pada saat mengasah batu giok. Kondisi seperti ini tidak baik bagi kesehatan karena bisa menyebabkan nyeri punggung belakang, gangguan sendi dan otot, akibat terlalu lama membungkuk.
Selain itu, aktivitas mengasah batu giok juga berpotensi mengganggu kesehatan syaraf  tangan si pengrajin.
TGJ: Mengapa demikian?
Dokter: Coba anda lihat, seringkali pengrajin memegang dan mengasah batu giok yang berukuran kecil. Tentu saja hal ini membutuhkan kekuatan tangan yang maksimal agar bisa terus-menerus memegang batuan tersebut. Itu sebabnya, bisa mengganggu kesehatan syaraf tangan si pengrajin.
TGJ: Selain bahaya ergonomis, apakah masih ada bahaya yang mungkin akan dialami oleh pengrajin batu giok?
Dokter: Ada, yaitu bahaya yang dipengaruhi oleh faktor fisika seperti cahaya. Tidak dipungkiri pekerjaan mengasah batu giok membutuhkan konsentrasi mata yang tinggi, sehingga mata dituntut terus-menerus berakomodasi dengan batu giok yang sedang diasahnya.
Pengrajin yang mengasah batu di bawah penerangan seadanya, berpotensi mengalami gangguan visus atau yang lebih dikenal dengan istilah kerusakan pada mata. Berdasarkan literatur yang pernah saya baca, kasus kerusakan mata yang diakibatkan karena terlalu sering mengasah batu giok penah terjadi di Cina.
TGJ: Apakah bunyi mesin pengasah batu yang bising juga bisa berdampak bagi kesehatan pengrajin?
Dokter: Bisa saja, jika dalam jangka waktu yang lama. Bunyi yang keras dan dalam jangka waktu panjang bisa menyebabkan pendengaran seseorang menjadi terganggu,
TGJ: Apakah debu yang dihasilkan dari mengasah batu giok berbahaya bagi kesehatan ?
Dokter: Sangat berbahaya. Partikel debu merupakan senyawa kimiawi yang muncul akibat adanya pergesekan antara batu giok dengan benda keras lainnya, dalam hal ini mesin asah.
Jika partikel tersebut masuk ke dalam paru-paru seseorang dan terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka individu tersebut akan mengalami pneumokoniosis atau radang paru kronik.
Ibarat jalan buntu, partikel halus yang masuk ke dalam paru-paru, sangat sulit untuk dikeluarkan. Efeknya orang yang menghirup partikel tersebut akan sulit bernafas.
Sejauh ini, belum ada obat spesifik yang dapat menghilangkan pneumokoniosis. Kalaupun diobati sifatnya hanya untuk meningkatkan kualitas hidup saja, bukan untuk menyembuhkan.
TGJ: Tips agar terhindar dari berbagai sumber bahaya akibat mengasah batu giok  ?
Dokter: Pertama, pengrajin harus berhenti mengasah batu giok. Ini merupakan cara mudah untuk meng-eliminasi atau menghilangkan sumber bahaya. Namun, cara ini sangat sulit untuk diimplementasikan, terutama bagi  mereka yang menggantungkan rezeki dari aktifitas mengasah batu giok.
Jika cara pertama sukar untuk dilakukan, maka cara kedua adalah men-subtitusi atau mengganti batu giok dengan benda lainnya. Lagi-lagi hal ini bisa jadi sangat sulit ditunaikan mengingat batu giok adalah jenis batuan yang bernilai jual yang tinggi dan sangat diminati.
Jika cara pertama dan kedua tidak bisa direalisasikan, maka cara ketiga adalah melakukan konrol teknis. Kontrol teknis bisa berupa mengganti alat-alat tradisional dengan alat yang lebih ergonomis dan tidak mencederai tubuh.
Jika kontrol teknis tidak sepenuhnya mampu mengendalikan sumber bahaya, maka hal lain yang bisa dibuat adalah melakukan kontrol secara administratif. Contoh kontrol administratif adalah memakai artibut keselamatan seperti kacamata, satung tangan, masker dan penutup telinga serta membuat pengaturan yang mengatur rotasi kerja.
TGJ: Mengapa harus ada rotasi kerja ?
Dokter: Tubuh kita punya alarm, jika tubuh sudah merasakan lelah maka berhentilah sejanak. Sediakan waktu untuk beristirahat disela-sela bekerja.
TGJ: Kapan waktu yang tepat mengasah batu giok?
Dokter: Semua pekerjaan sangat baik jika dilakukan pada pagi hari, termasuk mengasah batu giok. Semakin malam, kondisi tubuh berangsur-angsur menurun. Sehingga kekuatan otot, mata dan anggota tubuh lainnya juga pasti akan  menurun pula.
Boleh saja bekerja pada malam hari. Hanya saja kita perlu lebih berhati-hati. Lagi pula saya tidak mungkin mengeluarkan larangan (tertawa).
TGJ: Selama ini pengrajin menggunakan air untuk mereduksi debu. Apakah cara ini tepat ?
Dokter: Saya rasa tepat sekali, itu bisa menjadi salah satu cara mengontol resiko terhirupnya debu. Saya pernah baca juga, di pabrik-pabrik besar, cara itu (mengalirkan air-red) sudah banyak diterapkan untuk mengontrol debu. Bagus sekali jika ada pemikiran menggunakan air untuk mereduksi dan mengendapkan debu.
TGJ: Apa pesan Dokter kepada pengrajin batu giok?
Dokter: Silahkan saja mengasah batu giok, namun pergunakanlah alat pelindung diri seperti kacamata, masker, sarung tangan dan penutup telinga. Kacamata berguna untuk mencegah benda asing mencederai mata. Masker berguna untuk mencegah debu dan partikel halus masuk kedalam saluran pernapasan. Sarung tangan berguna untuk mencegah tangan para pengrajin terluka saat mengasah batu giok. Yang terakhir penutup telinga, ini berfungsi untuk mencegah telinga mengalami swing atau pekak[SH01022015].
Tulisan ini telah dimuat di halaman media online The Globe Journal pada tanggal 21 Februari 2015

Minggu, 02 Maret 2014

Upaya Menyelamatkan Tenaga Kerja Aceh

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad, M.OHS 


Banyak pekerja tambang di Indonesia yang tidak terlindungi dari bahaya kerja

LAGI, nyawa tenaga kerja Aceh melayang di tempat kerja. Seperti diberitakan, tiga penambang emas tewas di lokasi tambang Gampong Pulo Lhoih, Kecamatan Geumpang, Pidie. Kasus ini menambah daftar panjang penambang emas yang meninggal akibat kecelakaan kerja. (Serambi, 25/1/2014).

Diperkirakan ketiga pekerja tambang tersebut meninggal di tempat akibat kekurangan oksigen, suatu masalah umum yang ada pada confined space (ruang sempit). Padahal untuk bekerja dalam ruang sempit, seorang pekerja perlu dibekali pelatihan prosedur keselamatan khusus.

Ditilik dari perspektif ilmu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), terjadinya kecelakaan kerja dapat dijelaskan dengan teori Swiss Cheese Model karya James Reason. Profesor psikologi industri di Inggris ini mengilustrasikan kecelakaan kerja dengan perumpamaan keju Swiss.

Menurutnya, kecelakaan kerja terjadi akibat kegagalan lapisan-lapisan sistem pengamanan terhadap suatu occupational hazard atau bahaya kerja. Lapisan-lapisan pada keju diumpamakan sebagai lapisan-lapisan sistem pengaman dan lubang-lubang pada keju sebagai gap atau celah. Celah inilah yang memberi jalan suatu bahaya kerja sehingga bisa menimbulkan kecelakaan kerja.

Kompleks dan kronis

Terlepas dari unsur legalitas pekerjaannya, kasus yang menimpa beberapa tenaga kerja tambang di Aceh tersebut merupakan contoh yang kerap terulang, akibat dari permasalahan di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang kompleks dan kronis di Indonesia. Faktanya, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) mencatat lebih 12.700 perusahaan di negara ini tidak mengimplementasikan K3 secara benar sepanjang 2013 lalu (www.depnakertrans.co.id).

Jumlah yang sangat bombastis. Maka rasanya tidak perlu heran jika kasus kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja (PAK) silih berganti menjadi headline media massa. Target “Indonesia Berbudaya K3 Tahun 2015” sepertinya masih memerlukan usaha yang gigih. Walaupun tidak semua dari ketidakpatuhan tersebut berujung pada kasus, namun sejatinya masalah tersebut tetap ada. Layaknya fenomena gunung es, kasus-kasus yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil dari masalah, sedangkan sebagian besarnya justru terkubur jauh di dalam.

Kamis, 22 Agustus 2013

Toksikologi

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad


Gambar 1. Tanda peringatan bahaya zat kimia

Pengantar Toksikologi


Salah satu cabang ilmu pengetahuan yang masih dalam ruang lingkup Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah Toksikologi. Sebagaimana namanya, Toksikologi adalah ilmu yang mempelajari mekanisme kerja dan pengaruh toksik dari zat-zat kimia pada makhluk hidup. Tujuan utama dari mempelajari toksikologi adalah untuk mengetahui bagaimana efek suatu zat kimia terhadap kesehatan dan berapa banyak kadar zat kimia yang dibutuhkan sehingga dapat menimbulkan efek tersebut. Pengetahuan ini - efek dan kadar toksik zat kimia - lalu bisa digunakan sebagai dasar untuk menentukan batas paparan zat kimia yang diperbolehkan.

Mekanisme kerja dan pengaruh toksik suatu zat kimia dapat dilacak melalui berbagai cara. Cara yang paling tepat, yang bisa menjadi bukti kuat, adalah dengan pengukuran langsung paparan zat kimia dan efek yang ditimbulkannya pada manusia melalui studi epidemiologi atau studi klinis terkontrol. Bagaimanapun, dalam banyak kasus, tidak mudah untuk bisa melakukan pengukuran langsung pada manusia. Pada kasus-kasus ini, pengukuran paparan dan efek zat kimia dilakukan melalui studi eksperimental di laboratorium pada binatang percobaan dan sel tubuh manusia, dengan harapan hasil yang dicapai dapat diekstrapolasi pada manusia.

Ruang lingkup toksikologi sangat luas, sebagaimana kita ketahui, setiap zat kimia memiliki potensi membahayakan kesehatan manusia apabila mencapai kadar tertentu. Oleh karena itu, studi toksikologi biasanya dibatasi hanya untuk mempelajari mekanisme kerja dan pengaruh toksik zat kimia yang terdapat pada bahan polutan, bahan tambahan makanan, obat-obatan, dan bahan industri.

Seorang dokter akan sangat membutuhkan pengetahuan tentang toksikologi ini ketika berhadapan dengan kasus-kasus kesehatan dari lingkungan kerja dimana terdapat paparan zat kimia. Pengetahuan tentang mekanisme kerja dan pengaruh toksik suatu bahan kimia sangat dibutuhkan untuk dapat menentukan diagnosis dan manajemen terapi yang tepat. Terlebih lagi dalam kasus-kasus kegawatdaruratan akibat paparan bahan kimia, pengetahuan toksikologi dapat membantu menentukan langkah pertolongan pertama.

Referensi

McCunney
, Robert J., ed. A practical approach to occupational and environmental medicine. Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins, 2003.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...