Senin, 07 Januari 2013

Manajemen Resiko (Risk Management) K3

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad

Manajemen resiko adalah usaha untuk menghilangkan atau meminimalisir sumber bahaya di tempat kerja

Prinsip HIRARC

Prinsip dasar dalam manajemen resiko K3 dikenal dengan singkatan HIRARC, yang terdiri dari Hazard Identification, Risk Assessment, dan Risk Control. Ketiga poin ini merupakan alur berkelanjutan dan dijalankan secara bertahap. Gambaran proses nya secara sederhana adalah sebagai berikut:
  1. Langkah pertama untuk mengurangi kecenderungan kecelakaan atau PAK (Penyakit Akibat Kerja) adalah dengan Hazard Identification atau dengan mengidentifikasi sumber bahaya yang ada di tempat kerja.
  2. Langkah kedua dengan melakukan Risk Assessment atau dengan menilai tingkat resiko timbulnya kecelakaan kerja atau PAK dari sumber bahaya tersebut.
  3. Langkah terakhir adalah dengan melakukan Risk Control atau kontrol terhadap tingkat resiko kecelakaan kerja dan PAK
Proses HIRARC ini harus terus dievaluasi secara kontinyu untuk memastikan efektivitas dari pengontrolan resiko sumber bahaya. Proses HIRARC dimulai lagi dari awal apabila terjadi perubahan pada sistem atau pengenalan alat dengan potensi sumber bahaya baru.

Gambar berikut menjelaskan alur proses manajemen resiko:


Gambar 1. Alur Manajemen Resiko (Comcare, 2004)

Mekanisme Kontrol Resiko

1. Eliminasi

Proses eliminasi adalah usaha untuk menghilangkan sumber bahaya di tempat kerja.

2. Subtitusi

Apabila sumber bahaya tersebut tidak dapat di-eliminasi, maka usaha berikutnya adalah dengan mengganti atau men-subtitusi zat/benda/proses yang menjadi sumber bahaya tersebut dengan zat/benda/proses lain yang tidak menjadi sumber bahaya.

3. Engineering Control

Pada keadaan dimana sumber bahaya teersebut tidak dapat di-eliminasi atau di-subtitusi, maka diterapkan usaha kontrol teknis atau engineering control untuk menurunkan resiko sumber bahaya tersebut sehingga tidak membahayakan pekerja. Kontrol teknis ini sebagai contoh dapat berupa penutupan sumber bahaya sehingga tidak menimbulkan kontak langsung pada pekerja.

4. Administrative Control

Kontrol administratif diperlukan ketika kontrol teknis tidak sepenuhnya dapat mengendalikan sumber bahaya. Kontrol administratif dibuat untuk menjaga pekerja dalam wilayah 'aman'. Contoh kontrol administratif adalah pemasangan tanda bahaya dan pembuatan SOP (Standard Operational Procedure) pemakaian alat.

5. APD (Alat Pelindung Diri)

Setiap pekerja yang beresiko terhadap sumber bahaya diharuskan memakai APD.

Referensi

Comcare. (2004). Identify hazards in the workplace: A guide for hazards in the workplaceCanberra, Commonwealth of Australia


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...