Senin, 15 April 2013

Penilaian Beban Kerja 1: Pekerjaan Dinamis

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad

Pada banyak kesempatan, manajemen perusahaan tentunya ingin mengetahui bagaimana tingkat beban suatu pekerjaan di lingkungan kerjanya. Karena itu seorang ahli ergonomi dituntut untuk memahami cara mengevaluasi beban kerja sebuah pekerjaan.

Pekerjaan itu sendiri berdasarkan aktivitasnya dapat dibagi menjadi pekerjaan statis dan pekerjaan dinamis. Pekerjaan statis adalah pekerjaan yang menuntut pekerja untuk mempertahankan postur atau posisi tertentu dalam waktu yang lama. Sebaliknya, pekerjaan yang dinamis adalah pekerjaan yang melibatkan banyak gerakan dalam prosesnya. Dalam tulisan kali ini saya akan membahas tentang bagaimana cara mengukur beban kerja pada pekerjaan yang dinamis. 

Detak jantung sebagai alat ukur beban kerja pekerjaan dinamis

Cara yang paling sederhana dan mudah dipraktekkan di lapangan kerja untuk menilai beban kerja pekerjaan dinamis adalah dengan menggunakan detak jantung sebagai alat ukur. Untuk mempraktekannya dibutuhkan sebuah alat monitor detak jantung yang dapat mengukur secara kontinyu dan real-time. Salah satu contohnya adalah produk Polar Heart Rate. Alat seperti ini sangat mudah ditemukan di pasaran dan tentunya rekan-rekan yang aktif di olahraga sudah tidak asing lagi.

Dengan menggunakan alat monitor detak jantung tersebut, maka kita bisa dengan mudah melihat variasi perubahan detak jantung pada setiap perubahan aktivitas. Sederhananya, dengan membandingkan antara detak jantung dan aktivitas kerja, kita bisa mengklasifikasikan beban pekerjaan tersebut.

Klasifikasi yang umum dipakai adalah yang telah diajukan oleh Rodahl (1989), sebagaimana tercantum di tabel berikut:



Tabel 1. Klasifikasi beban kerja berdasarkan denyut jantung

No.
Klasifikasi beban kerja
Detak jantung
1
Ringan
s/d 90 kali/menit
2
Sedang
90 – 110 kali/menit
3
Berat
110 – 130 kali/menit
4
Sangat berat
130 – 150 kali/menit
5
Sangat sangat berat
150 – 170 kali/menit


Setalah kita mengukur denyut jantung, langkah berikutnya adalah membandingkan denyut jantung tersebut dengan tabel klasifikasi beban kerja, lalu mempresentasikannya dalam bentuk grafik. Grafik 1 menunjukkan contoh rekaman denyut jantung dalam 1 hari kerja. Perbedaan warna dimaksudkan untuk membantu kita melihat pola variasi denyut jantung. Warna merah menggambarkan area beban kerja ‘sangat berat’, warna kuning menggambakan area beban kerja ‘berat’, dan warna hijau menggambarkan area beban kerja ‘sedang’.


Grafik 1. Contoh grafik detak jantung dengan perbandingan area beban kerja


Dari grafik tersebut kita bisa dengan jelas menilai bagian kerja yang mana yang perlu diintervensi dan diturunkan beban kerjanya. Semoga bermanfaat.


Referensi

Rodahl, K 1989, The physiology of work, Taylor and Francis, London.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...