Rabu, 23 Januari 2013

Manajemen Kecelakaan Kerja

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad

Pendekatan Masalah 


Menurut Reason (2000), dalam suatu kasus kecelakaan kerja, ada dua macam pendekatan yang diambil: 1.) pendekatan berbasis individu dan 2.) pendekatan berbasis sistem. Pada pendekatan berbasis individu, individu penyebab langsung masalah menjadi fokus perhatian. Kesalahan pada kasus ini sepenuhnya ditimpakan pada individu tersebut, dengan menyalahkan mereka atas kelalaian, kelupaan, dan kurangnya perhatian mereka sehingga kecelakaan terjadi. Hal ini berbeda pada pendekatan berbasis sistem. Pada pendekatan berbasis sistem, upaya mencari kesalahan difokuskan pada kondisi lingkungan kerja dimana kecelakaan terjadi.

Senin, 21 Januari 2013

Kecelakaan Kerja

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad

Kecelakaan didefinisikan sebagai suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban manusia atau harta benda (Permenaker No. 03/MEN/98) 


Gambar 1. Kecelakaan Kerja (gambar diambil dari http://lilo.staff.fkip.uns.aci.id)

Kecelakaan yang dimaksud sesuai dengan Pasal 2 ayat 1 di Permenaker ini, yaitu :
  • Kecelakaan kerja 
  • Kebakaran atau peledakan dan bahaya pembuangan limbah 
  • Kejadian berbahaya lain
Selain itu, Permenaker ini juga mengatur kewajiban perusahaan dalam kasus kecelakaan kerja, kewajiban tersebut termasuk:
  • Pengurus atau pengusaha wajib melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi di tempat kerja 
  • Kecelakaan dilaporkan dalam waktu maksimal 2 x 24 jam sejak terjadinya kecelakaan 
  • Bisa dilakukan secara lisan sebelum dilaporkan secara tertulis.

Tahapan untuk menganalisa kecelakaan

  1. Mengidentifikasi korban dan tempat kecelakaan  (5 W, 1 H) 
  2. Pemeriksaan khusus terhadap kecelakaan 
  3. Menentukan frekwensi dan tingkat jenis kecelakaan (berat, sedang, ringan) 
  4. Mengetahui sumber dan faktor bahaya yang menyebabkan terjadinya kecelakaan 
  5. Memeriksa penyebab lain (faktor pendukung) yang mungkin meningkatkan resiko kecelakaan. 
Tahapan ini bisa dilihat pada tata cara pengisian formulir Kep. 84/BW/1998. Data-data yang perlu dilengkapi termasuk identitas perusahaan, informasi kecelakaan, data korban, fakta yang dibuat, uraian tjd kecelakaan, sumber kecelakaan, dan tipe kecelakaan.


Faktor Biologi


Oleh: dr. Ikhwan Muhammad

Gambar 1. Biohazard
Bahaya faktor biologi atau biological hazard (biohazard) didefinisikan sebagai agen infeksius atau produk yang dihasilkan agen tersebut yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Sedangkan agen faktor biologi atau biological agent didefinisikan sebagai mikroorganisme, kultur sel, atau endoparasit manusia, termasuk yang sudah dimodifikasi secara genetic, yang dapat menyebabkan infeksi, reaksi alergi, atau menyebabkan bahaya dalam bentuk lain yang mengganggu kesehatan manusia. 

Biohazard dapat berefek pada manusia melalui kontak langsung dengan biological agent (e.g gigitan ular berbisa) atau lewat penularan melalui agen perantara. Beberapa penyakit seperti Toxoplasmosis dapat ditularkan secara langsung dan tidak langsung. 

Klasifikasi biohazard 

Klasifikasi berdasarkan tipe agen 

Berdasarkan definisi biological agent, bahaya faktor biologi dapat diklasifikasikan menjadi: 
  1. Agen infeksius 
  2. Tumbuhan dan produknya 
  3. Hewan dan produknya 
Klasifikasi berdasarkan mode transmisi 

Pengetahuan tentang bagaimana biohazard menular sangat penting untuk memutus rantai infeksi. Berdasarkan prosesnya, transmisi dari biohazard dapat dibedakan menjadi: 
  1. Langsung, dimana infkesi terjadi akibat kontak fisik dengan orang yang terinfeksi 
  2. Tidak langsung, dimana infeksi terjadi akibat kontak dengan bahan atau benda yang terkontaminasi (e.g. permukaan, makanan, udara) 
Hubungan biohazard dengan pekerjaan 

Para pekerja dapat mengalami kontak dengan biohazard dalam beberapa macam keadaan: 
  1. Intrinsik pada pekerjaan tertentu; e.g. pekerja konstruksi pada fasilitas pengolahan limbah beresiko terpapar infeksi bakteri) 
  2. Insidental pada saat bekerja (bukan bagian dari aktivitas pekerjaan); e.g. pekerja yang menderita penyakit akibat mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi. 
  3. Terjadi pada bagian tertentu dari pekerjaan; e.g. pekerja yang berpergian dari atau ke tempat endemic penyakit tertentu 
  4. Tidak spesifik untuk pekerjaan; e.g. bakteri Legionella dapat tersebar dengan mudah di air dan tanah sehingga dapat menginfeksi beberapa macam pekerjaan, seperti petugas maintenance sistem pengairan dan pekerja kantoran dengan air-conditioner
Berikut adalah tipe pekerjaan yang beresiko tinggi terpapar biohazard 
  1. Pekerja lapangan (outdoor)
  2. Pekerja yang pekerjaannya berhubungan dengan hewan 
  3. Pekerja yang terpapar darah atau cairan tubuh manusia
  4. Pekerja yang bekerja di lingkungan kerja tertentu

Referensi

Newman-Martin, G. (2012). Biological Hazards. In HaSPA (Health and Safety Professionals Alliance), The Core Body of Knowledge for Generalist OHS Professionals. Tullamarine, VIC. Safety Institute of Australia


Sabtu, 19 Januari 2013

Daftar Penyakit Akibat Kerja

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad

Berikut adalah daftar 31 kelompok Penyakit Akibat kerja (PAK) sebagaimana yang tercantum pada Lampiran Keputusan Presiden Indonesia Nomor 22 Tahun 1993 Tentang Penyakit Yang Timbul Karena Hubungan Kerja:
  1. Pneumokonisis yang disebabkan debu mineral pembentuk jaringan parut (silikosis, antrakosilikosis, asbestosis) dan silikotuberkulosis yang silikosisnya merupakan faktor utama penyebab cacat atau kematian.
  2. Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronkhopulmoner) yang disebabkan oleh debu logam keras.
  3. Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronkhopulmoner) yang disebabkan oleh debu kapas, vlas, henep, dan sisal (bissinosis).
  4. Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan zat perangsang yang dikenal yang berada dalam proses pekerjaan.
  5. Alveolitis allergika yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat penghirupan debu organik.
  6. Penyakit yang disebabkan berilium atau persenyawaannya yang beracun.
  7. Penyakit yang disebabkan cadmium atau persenyawaannya yang beracun.
  8. Penyakit yang disebabkan fosfor atau persenyawaannya yang beracun.
  9. Penyakit yang disebabkan oleh krom atau persenyawaannya yang beracun.
  10. Penyakit yang disebabkan oleh mangan atau persenyawaannya yang beracun.
  11. Penyakit yang disebabkan oleh arsen atau persenyawaannya yang beracun.
  12. Penyakit yang disebabkan oleh air raksa atau persenyawaannya yang beracun.
  13. Penyakit yang disebabkan oleh timbal atau persenyawaannya yang beracun.
  14. Penyakit yang disebabkan oleh flour atau persenyawaannya yang beracun.
  15. Penyakit yang disebabkan oleh karbon disulfide.
  16. Penyakit yang disebabkan oleh derivate halogen dari persenyawaan hidrokarbon afiliatik atau aromatic yang beracun.
  17. Penyakit yang disebabkan oleh benzene atau homolognya yang beracun.
  18. Penyakit yang disebabkan oleh derivate nitro dan amina dari benzene atau homolognya yang beracun.
  19. Penyakit yang disebabkan oleh nitrogliserin atau ester asam nitrat lainnya.
  20. Penyakit yang disebabkan oleh alcohol, glikol, atau keton.
  21. Penyakit yang disebabkan oleh gas atau uap penyebab asfiksia atau keracunan seperti karbon monoksida, hirogensianida, hidrogen sulfide, atau derivatnya yang beracun, amoniak seng, braso, dan nikel.
  22. Kelainan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan.
  23. Penyakit yag disebabkan oleh getaran mekanik (kelainan-kelainan otot, urat, tulang persendian, pembuluh darah tepi atau syaraf tepi).
  24. Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekanan lebih.
  25. Penyakit yang disebabkan oleh radiasi elektromagnetik dan radiasi mengion.
  26. Penyakit kulit (dermatosis) yang disebabkan oleh penyebab fisik, kimiawi, atau biologik.
  27. Kanker kulit epitelioma primer yang disebabkan oleh ter, pic, bitumen, minyak mineral, antrasena atau persenyawaan, produk atau residu dari zat tersebut.
  28. Kanker paru atau mesotelioma yang disebabkan oleh asbes.
  29. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang didapat dalam suatu pekerjaan yang memiliki resiko kontaminasi khusus
  30. Penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi atau rendah atau panas radiasi atau kelembaban udara tinggi
  31. Penyakit yang disebabkan bahan kimia lainnya termasuk obat


Dokter Perusahaan

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad

 Gambar 1. Dokter perusahaan (foto diambil dari http://www.futureproofrehab.co.nz)
Dalam dunia Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), dokter perusahaan memiliki peranan penting dalam tim K3 perusahaan. karena K3 sendiri disusun atas dua poin yang saling berkorelasi - Keselamatan Kerja (Safety) dan Kesehatan Kerja (Occupational Health). Bersama dengan ahli di bidang lain (i.e. ahli higiene industri, ahli K3 umum, perawat perusahaan, teknisi keselamatan, manajer) dokter perusahaan menjadi ujung tombak untuk menjaga kondisi kesehatan para pekerja, yang pada akhirnya akan mengoptimalkan kinerja dan produksi suatu perusahaan.

Banyak orang mengira, bahkan praktisi kesehatan sekalipun, bahwa seorang dokter perusahaan memiliki tugas dan peranan yang relatif sama dengan dokter klinik pada umumnya. Sederhananya, banyak orang cenderung mengeneralisir bahwa dokter perusahaan adalah dokter yang bekerja di klinik perusahaan. Pemahaman ini tidak sepenuhnya salah, pun juga tidak sepenuhnya tepat. Faktanya itu hanyalah satu bagian dari tugas keseluruhan seorang dokter perusahaan. Karena itu mungkin perlu dipahami perbedaan antara ‘dokter perusahaan’ dengan ‘dokter klinik perusahaan’. Jika ditelusuri lebih lanjut, seorang dokter perusahaan memiliki tugas dan peranan spesifik. Tidak seperti dokter klinik yang aktivitasnya berfokus pada pelayanan kuratif, aktivitas seorang dokter perusahaan lebih menitikberatkan pada usaha kesehatan yang sifatnya promotif, preventif, dan rehabilitatif – dengan tenaga kerja sebagai objeknya.

Tugas Dokter Perusahaan


Secara umum, tugas seorang dokter perusahaan dapat dibagi dalam empat ruang lingkup: medis, teknis lingkungan kerja, teknis administratif, dan lingkungan sosial.

A. Medis

1. Program kesehatan di tempat kerja

Fungsi dasar seorang dokter sebagai seorang praktisi kesehatan adalah untuk menjalankan program pelayanan kesehatan. Untuk seorang dokter perusahaan, ruang lingkup kerjanya termasuk pemeriksaan kesehatan, perawatan dan rehabilitasi, serta pencegahan penyakit umum

2. Jalin hubungan dengan tenaga kerja

Seorang dokter perusahaan juga dituntut untuk menampung keluhan tenaga kerja saat konsultasi kesehatan dan membantu melakukan koreksi lingkungan apabila diperlukan bersama tim dari disiplin ilmu lain.

B. Teknis Lingkungan Kerja

1. Pengukuran

Seorang dokter perusahaan juga harus memiliki pengetahuan tentang alat ukur dan standar keadaan lingkungan, termasuk diantaranya keadaan iklim, bising, pencahayaan dan lain-lain. Pengetahuan ini bermanfaat untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap kesehatan pekerja. Namun, seorang dokter perusahaan juga harus mengetahui batas cakupan disiplin ilmunya dan melakukan konsultasi pada ahli higiene industri untuk melakukan pengukuran pada keadaan yang lebih spesifik. Pengukuran dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.


Gambar 2. Sound Level Meter - alat ukur kebisingan

2. Kebersihan dan Sanitasi.

Seorang dokter perusahaan dituntut untuk mengoptimalkan dan memantau kebersihan serta sanitasi di perusahaan, termasuk di tempat kerja, kantin, WC, dan pembuangan sampah. Selain itu, usaha kebersihan lain yang harus dilakukan termasuk pemberantasan insekta – tikus, kampanye kebersihan perorangan (personal hygiene), dan pemantauan sistem pengolahan sisa/sampah industri.

3. Penyesuaian kemampuan fisik dan pekerjaan.

Seorang dokter perusahaan harus mampu menilai kemampuan fisik seorang pekerja dan membuat rekomendasi untuk penyesuaian di tempat kerja pekerja tersebut. Ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kelelahan dan mengoptimalkan kinerja.

C. Teknis Administratif

Seorang dokter perusahaan berkewajiban untuk memenuhi tugas administratif, termasuk diantaranya: 1. ) Pencatatan dan pelaporan medis ke instansi, 2.) Administrasi rutin bidang kesehatan, dan 3.) Perencanaan usaha pengembangan hiperkes di perusahaan.

D. Tugas Sosial

Selain tugas-tugas diatas, seorang dokter perusahaan juga memiliki peranan sosial sebagai Health Educator atau penyuluh kesehatan.  Materi yang harus disampaikan termasuk gaya hidup sehat, gizi, dan mutu makanan. Seorang dokter perusahaan juga harus mampu berfungsi sebagai Health Counsellor (Komunikator) yang menjembatani hubungan antara pekerja dengan pihak manajerial perusahaan dalam bidang kesehatan. Seorang dokter perusahaan juga sering dilibatkan dalam tugas kepanitiaan/tim, seperti P2K3, P3K atau Regu Pemadam Kebakaran.

Untuk mengetahui daftar tugas pelayanan kesehatan kerja di perusahaan dapat dilihat di Permen No. Per-03/Men/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja, Pasal 2.


Kamis, 17 Januari 2013

Tugas Pokok Pelayanan Kesehatan Kerja

Tugas Pokok Pelayanan Kesehatan Kerja
(Permen No. Per-03/Men/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja, Pasal 2)
  1. Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Kerja, Pemeriksaan Berkala dan Pemeriksaan Khusus
  2. Pembinaan Dan Pengawasan Atas Penyesuaian Pekerjaan Terhadap Tenaga Kerja. 
  3. Pembinaan Dan Pengawasan Terhadap Lingkungan Kerja. 
  4. Pembinaan Dan Pengawasan Terhadap Perlengkapan Saniter. 
  5. Pembinaan Dan Pengawasan Perlengkapan Untuk Kesehatan Tenaga Kerja. 
  6. Pembinaan Dan Pengawasan Terhadap Tenaga Kerja Yang Mempunyai Kelainan Tertentu Dalam Kesehatannya.
  7. Pendidikan Kesehatan Untuk Tenaga Kerja dan Latihan Untuk Petugas PPPK. 
  8. Pencegahan Dan Pengobatan Terhadap Penyakit Akibat Kerja Dan Penyakit Umum. 
  9. Memberikan Nasihat Mengenai Perencanaan Dan Pembuatan Tempat Kerja, Pemilihan Alat Pelindung Diri Yang Diperlukan, Gizi Serta Penyelenggaraan Makanan Di Tempat Kerja. 
  10. Membantu Usaha Rehabilitasi Akibat Kecelakaan Kerja Atau Penyakit Akibat Kerja. 
  11. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK). 
  12. Memberikan Laporan Berkala Tentang Pelayanan Keehatan Kerja Kepada Pengurus.

Referensi

Himpunan Peraturan Perundang-undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja 2012, Sekretariat Jenderal Pusat Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, Jakarta.


Selasa, 15 Januari 2013

Ergonomi di Kantor (video)

Faktor Ergonomi sangat penting dalam proses pekerjaan di semua tempat kerja. Bukan hanya di pabrik atau industri dengan bahaya ergonomi yang nyata, pekerjaan di kantor juga membutuhkan peranan Ergonomi untuk meengoptimalkan kapasitas kerja. Video berikut menunjukkan beberapa poin penting dalam Ergonomi di kantor:

 Video 1. Office Ergonomics


Jumat, 11 Januari 2013

Debu Kayu

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad


Gambar 1. Debu kayu di tempat pembuatan furnitur

Debu kayu yang dihasilkan dari proses pengolahan kayu mengandung bahaya bagi pekerja. Namun tidak semua debu kayu dapat membahayakan kesehatan, hal ini tergantung dari spesies kayu yang digunakan, konsentrasi dan durasi paparan, kandungan bahan toksik dalam kayu, dan sensitivitas pekerja 

Klasifikasi 

Kayu dapat diklasifikasikan menjadi hardwood dan softwood. Dasar dari pengelompokan ini adalah pada struktur sel spesies kayu terkait bukan bentuk fisik dari kayu. 

Toksisitas 

Bentuk umum dari kayu yang dapat membahayakan kesehatan adalah debu kayu dan bahan organik lain pada kayu. 

Nilai batas paparan di tempat kerja 

HSE (Health and Safety Executive) UK menetapkan nilai batas paparan debu kayu (softwood dan hardwood) di tempat kerja sebesar 5mg/m3 (8 jam TWA/Time Weighted Average, debu total yang terhirup). Lebih jauh lagi, baik softwood maupun hardwood digolongkan sebagai bahan karsinogenik dan dianggap sebagai pencetus kanker. Berdasarkan hal ini prinsip ALARA (As Low As Reasonably Practicable) harus dianut. 

Penyakit akibat debu kayu 

  • Kulit : paparan debu kayu dapat mengiritasi kulit sehingga menyebabkan dermatitis. Pada dermatitis iritan ini lesi umumnya timbul pada punggung tangan, wajah, leher, dan kulit kepala. Selain dermatitis iritan, dermatitis juga dapat timbul melalui proses sensitasi dan alergi. 
  • Pernafasan : debu kayu yang terhirup dapat menimbulkan masalah kesehatan pada hidung (e.g. rhinitis, hidung tersumbat, mimisan) dan paru-paru (e.g. asthma, gangguan fungsi paru)
  • Mata : apabila terkena mata, debu kayu dapat menimbulkan mata berair, perih, dan konjungtivitis. 

Perhatian 

Berikut poin penting apabila terdapat bahaya debu kayu di tempat kerja :
  1. Kenali jenis kayu yang digunakan 
  2. Ganti jenis kayu yang berbahaya dengan jenis kayu yang aman 
  3. Gunakan LEV (Local Exhaust Ventilation) untuk mengendalikan paparan debu kayu 
  4. Gunakan APD (Alat Pelindung Diri) apabila LEV tidak dapat mengendalikan paparan secara adekuat. APD disini termasuk alat pelindung pernafasan dan baju pelindung. 
  5. Pastikan LEV dan APD dirawat dengan baik secara berkala 
  6. Pastikan penyediaan fasilitas kebersihan di tempat kerja 
  7. Gunakan krim kulit khusus untuk mencegah perkembangan dermatitis

Referensi

Toxic Woods Woodworking Information Sheet WIS30(rev1) HSE 2012 www.hse.gov.uk/pubns/wis30.htm


Selasa, 08 Januari 2013

Analisa Ergonomi

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad

Gambar 1. Ergonomic Framework, ruang lingkup analisa Ergonomi

Seorang praktisi Ergonomi dituntut untuk mampu membuat analisa suatu pekerjaan dengan mempertimbangkan faktor-faktor Ergonomi. Berbagai perangkat analisa Ergonomi tersedia untuk menganalisa pekerjaan. Faktor-faktor Ergonomi yang harus dipertimbangkan dalam menganalisa pekerjaan adalah: 

  1. Postur dari segmen tubuh yang penting: punggung belakang, leher-bahu, tungkai bawah, siku-pergelangan-dan tangan. 
  2. Durasi dan frekwensi tugas: apakah pekerjaan tersebut dilakukan dalam rentang waktu yang lama atau dilakukan secara berulang-ulang 
  3. Tenaga/kekuatan: tenaga yang dibutuhkan saat awal pekerjaan (untuk membuat suatu benda bergerak), tenaga yang dipertahankan selama pekerjaan (untuk mempertahankan gerakan benda), dan arah dari penggunaan tenaga (e.g. apakah benda diangkat atau didorong). 
  4. Karakteristik beban: perangkai (apakah beban basah, licin, atau memiliki bentuk/ukuran yang tidak biasa), apakah ada paparan vibrasi dari beban pada lengan dan tangan. 
  5. Sistem Kerja: tingkat kontrol dalam pekerjaan, tuntutan kerja tinggi atau berfluktuasi, membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi secara terus-menerus. 
  6. Faktor lingkungan: suhu dan kelembaban, kebutuhan pakaian pelindung diri, pencahayaan yang tidak adekuat dalam tugas, paparan vibrasi pada seluruh tubuh. 
Analisa dari faktor-faktor ini dapat dilakukan dengan mengamati secara langsung prosedur pada saat pekerjaan berlangsung atau dengan menilai simulasi pekerjaan pada keadaaan yang tidak bisa diamati secara langsung.


Senin, 07 Januari 2013

Faktor Fisika

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad

Keputusan Menteri Tenaga Kerja (Kemenaker) Nomor: KEP-51/MEN/1999 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja, mendefinisikan faktor fisika sebagai “faktor di dalam tempat kerja yang bersifat fisika yang dalam keputusan ini terdiri dari iklim kerja, kebisingan, getaran, gelombang mikro, dan sinar ultra ungu”.

Berikut adalah sumber bahaya faktor fisika yang umum ditemui di tempat kerja. Ikuti link untuk pergi ke halaman penjelasan:

Manajemen Resiko (Risk Management) K3

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad

Manajemen resiko adalah usaha untuk menghilangkan atau meminimalisir sumber bahaya di tempat kerja

Prinsip HIRARC

Prinsip dasar dalam manajemen resiko K3 dikenal dengan singkatan HIRARC, yang terdiri dari Hazard Identification, Risk Assessment, dan Risk Control. Ketiga poin ini merupakan alur berkelanjutan dan dijalankan secara bertahap. Gambaran proses nya secara sederhana adalah sebagai berikut:
  1. Langkah pertama untuk mengurangi kecenderungan kecelakaan atau PAK (Penyakit Akibat Kerja) adalah dengan Hazard Identification atau dengan mengidentifikasi sumber bahaya yang ada di tempat kerja.
  2. Langkah kedua dengan melakukan Risk Assessment atau dengan menilai tingkat resiko timbulnya kecelakaan kerja atau PAK dari sumber bahaya tersebut.
  3. Langkah terakhir adalah dengan melakukan Risk Control atau kontrol terhadap tingkat resiko kecelakaan kerja dan PAK
Proses HIRARC ini harus terus dievaluasi secara kontinyu untuk memastikan efektivitas dari pengontrolan resiko sumber bahaya. Proses HIRARC dimulai lagi dari awal apabila terjadi perubahan pada sistem atau pengenalan alat dengan potensi sumber bahaya baru.

Gambar berikut menjelaskan alur proses manajemen resiko:


Gambar 1. Alur Manajemen Resiko (Comcare, 2004)

Mekanisme Kontrol Resiko

1. Eliminasi

Proses eliminasi adalah usaha untuk menghilangkan sumber bahaya di tempat kerja.

2. Subtitusi

Apabila sumber bahaya tersebut tidak dapat di-eliminasi, maka usaha berikutnya adalah dengan mengganti atau men-subtitusi zat/benda/proses yang menjadi sumber bahaya tersebut dengan zat/benda/proses lain yang tidak menjadi sumber bahaya.

3. Engineering Control

Pada keadaan dimana sumber bahaya teersebut tidak dapat di-eliminasi atau di-subtitusi, maka diterapkan usaha kontrol teknis atau engineering control untuk menurunkan resiko sumber bahaya tersebut sehingga tidak membahayakan pekerja. Kontrol teknis ini sebagai contoh dapat berupa penutupan sumber bahaya sehingga tidak menimbulkan kontak langsung pada pekerja.

4. Administrative Control

Kontrol administratif diperlukan ketika kontrol teknis tidak sepenuhnya dapat mengendalikan sumber bahaya. Kontrol administratif dibuat untuk menjaga pekerja dalam wilayah 'aman'. Contoh kontrol administratif adalah pemasangan tanda bahaya dan pembuatan SOP (Standard Operational Procedure) pemakaian alat.

5. APD (Alat Pelindung Diri)

Setiap pekerja yang beresiko terhadap sumber bahaya diharuskan memakai APD.

Referensi

Comcare. (2004). Identify hazards in the workplace: A guide for hazards in the workplaceCanberra, Commonwealth of Australia


Minggu, 06 Januari 2013

Bekerja Pada Ketinggian - Video

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad

Beberapa tempat kerja menuntut pekerja untuk bekerja di ketinggian, seperti tempat konstruksi dan pertambangan. Ketika berada pada tempat seperti ini, para kerja dihadapkan pada bahaya jatuh dari ketinggian. Video berikut menunjukkan tentang bagaimana bahaya jatuh dari ketinggian. Diawali dengan kesaksian seorang korban tentang kecelakaan yang dialaminya, diikuti dengan penjelasan bahaya di ketinggian serta dilengkapi petunjuk teknis sederhana bagaimana mencegahnya. Pada intinya, selalu ingat untuk tidak mengambil resiko sekecil apapun di tempat yang berbahaya, karena mungkin saja resiko yang kita ambil itu menentukan bagaimana hidup kita selanjutnya.




Video 1. Working at Height


Bahaya Listrik

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad


Gambar 1. Salah satu sumber bahaya listrik (diambil dari  http://194.53.253.100/home.asp)

Salah satu bahaya signifikan yang mengancam di tempat kerja adalah bahaya listrik. Tidak jarang kecelakaan kerja yang berhubungan dengan listrik mengakibatkan korban jiwa; bahkan kecelakaan kerja ini umumnya terjadi bukan pada industri listrik. Berangkat dari kesadaran akan hal ini, maka pengetahuan tentang fisika dasar listrik dan bagaimana listrik bisa mengakibatkan kecelakaan adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap praktisi K3. Tuntutan ini didukung oleh adanya peningkatan kebutuhan listrik dalam industri dan kehidupan sehari-hari.

Pengetahuan dasar

Listrik terjadi akibat adanya aliran elektron melalui sebuah konduktor, pergerakan tegangan listrik ini dikenal dengan arus listrik dan intensitasnya diukur dengan satuan 'ampere'. 'I', yang diambil dari kata intensity, adalah simbol untuk arus listrik. Berdasarkan arahnya, arus listrik dapat berupa DC (direct current) atau AC (alternating current). Arus listrik DC mengalir menuju satu arah, contohnya arus listrik dari sumbu negatif ke sumbu positif sebuah baterai. Sedangkan arus listrik AC memiliki dua arah dengan frekuensi spesifik.

Efek fisiologis akibat cedera yang berhubungan dengan listrik
  • Luka bakar atau electric shock akibat kontak langsung
  • Cedera ketika bekerja dekat dengan alat listrik
  • Listrik statis
  • Bahaya lain yang tidak langsung berhubungan (e.g. bahaya jatuh setelah tersengat listrik)

Pengendalian bahaya listrik

Secara umum, seperti juga dalam pengendalian sumber bahaya lain, pengendalian bahaya listrik dilakukan dengan pendekatan hirarki kontrol (i.e eliminasi, subtitusi, engineering control, administrative control, dan penggunaan APD (Alat Pelindung Diri)

Referensi

Ruschena, LJ 2012. (2012). Physical Hazard: Electricity. In HaSPA (Health and Safety Professionals Alliance), The Core Body of Knowledge for Generalist OHS Professionals. Tullamarine, VIC. Safety Institute of Australia


Sabtu, 05 Januari 2013

Pekerjaan Manual (Manual Task)

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad 

Pekerjaan manual atau manual task didefinisikan sebagai pekerjaan atau aktivitas yang menuntut seseorang untuk menggunakan kekuatan fisiknya (sistem muskuloskeletal). Termasuk diantaranya menggunakan tenaga untuk mengangkat, merendahkan, menarik, membawa, dan menahan manusia, hewan, atau benda. Selain itu, termasuk juga pekerjaan yang bersifat repetitif, monoton, atau membuat pekerja terpapar terhadap getaran.


Gambar 1. Mengangkat pasien adalah salah satu pekerjaan manual yang berbahaya

Lebih dari setengah dari jumlah cedera dan Musculo-Sceletal Disorder (MSD) di tempat kerja disebabkan oleh pekerjaan manual. Jenis cedera ini diantaranya adalah: 

1. Sprain dan strain pada otot, ligament, dan tendon 
2. Cedera punggung 
3. Cedera pada persendian 
4. Cedera pada tulang 
5. Cedera pada saraf 
6. Gangguan otot dan pembuluh darah akibat getaran pada tangan dan lengan 
7. Herniasi pada jaringan lunak 

Jenis-jenis pekerjaan manual yang memiliki potensi menyebabkan cedera dikelompokkan dalam pekerjaan manual berbahaya atau hazardous manual tasks

Referensi

Australian Safety and Compensation Council 2007, National Code of Practice for the Prevention of Musculoskeletal Disorders from Performing Manual Tasks at Work, Commonwealth of Australia, Canberra.


Pencahayaan

Oleh: dr. Ikhwan Muhammad

Walaupun sering dianggap sebagai masalah kecil dalam K3, namun keberadaan pencahayaan yang baik sangat berperan dalam produktivitas lingkungan kerja. Keluhan akibat pencahayaan di ruangan biasanya timbul bersamaan dengan keluhan lain dalam bentuk sindrom Sick Building Syndrome

Peraturan Menteri (Permen) Perburuhan No. 7 Tahun 1964 Tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan Serta Penerangan Dalam Tempat Kerja mewajibkan perusahaan untuk menyediakan penerangan yang cukup dan memenuhi syarat untuk untuk melakukan pekerjaan. Syarat-syarat penerangan yang tercantum dalam Permen ini termasuk diantaranya mengatur tentang: 
  • Penyediaan penerangan dari sinar matahari 
  • Penyediaan penerangan tambahan


NAB Iklim Kerja


Nilai Ambang Batas Iklim Kerja ISBB Yang Diperkenankan

Pengaturan waktu kerja
setiap hari
ISBB (oC)
Beban Kerja
Waktu Kerja
Waktu Istirahat
Ringan
Sedang
Berat
Bekerja terus-menerus
-
30,0
26,7
25,0
75% kerja
25% istirahat
30,6
28,0
25,9
50% kerja
50% istirahat
31,4
29,4
27,9
25% kerja
75% istirahat
32,3
31,1
30,0

Catatan:

ISBB: Indeks Suhu Basah dan Bola (Wet Globe and Ball Temperature/WBGT)

Indeks Suhu Basah dan Bola untuk di luar ruangan dengan panas radiasi:
  • ISBB: 0,7 suhu basah alami + 0,2 suhu bola + 0,1 suhu kering 

Indeks Suhu Basah dan Bola untuk di dalam atau luar ruangan tanpa panas radiasi:


  • ISBB: 0,7 suhu basah alami + 0,3 suhu bola 

Beban kerja ringan membutuhkan 100-200 kkal/jam
Beban kerja sedang membutuhkan >250 – 350 kkal/jam
Beban kerja berat membutuhkan >350-500 kkal/jam



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...